Membangun Generasi Sejak dalam Kandungan

Oleh: Syafriana SitorusMasih ingatkah kita kata-kata yang diikrarkan oleh Presiden Soekarno, ”Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”. Pernyataan tersebut sudah tidak asing lagi kita dengar. Bagaimana seorang proklamator menjamin suatu perubahan hanya dengan bermodalkan pemuda.

Pemuda adalah generasi yang produktif dan memiliki semangat yang menggelora. Tak heran bahwa Pemuda dijadikan asset negara untuk melakukan perubahan dan perkembangan. Pemuda-pemuda yang diharapkan adalah generasi yang membangun bukan sebaliknya. oleh sebab itu, pemerintah selalu melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan intelektual para generasi negaranya. Seperti wajib sekolah 9 tahun, BOS, TK, Pertukaran pelajar dan lain-lain. Danapun tidak tanggung-tanggung dikeluarkan untuk menjadikan generasi Indonesia yang mampu mengolah SDAnya sendiri dan bersaing di tingkat Internasional .

Keinginan itu memang terangkai indah dalam kotak impian negara. Tetapi impian tanpa usaha hanya seperti udara yang beterbangan, bisa dirasakan tetapi tak bisa melihat ataupun menggenggamnya.

Kandungan

Pembentukan otak, tangan, mata dan organ vital lainnya terbentuk ketika anak berada dalam kandungan. Kandungan merupakan tempat pertama pembentukan generasi. Oleh karena itu, salah ketika seseorang memfokuskan pembentukan generasi pada tahap Sekolah. Ketika berada dalam kandungan, janin yang berkembang menjadi bayi harus disupply melalui perantaraan si-ibu. “Pemberian Gizi Tambahan” adalah hal yang diperlukan oleh si-ibu agar pembentukan organ-organ berjalan lancar baik zat gizi makro seperti karbohidrat, lemak, protein maupun zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral.

Zat gizi tersebut diperoleh dari makanan dan minuman seperti buah-buahan, sayuran, susu dan sebagainya. Apabila kekurangan zat-zat tersebut, memungkinkan pertumbuhan janin terhambat, berat badan lahir rendah, bayi cacat atau sampai menyebabkan kematian bayi maupun kematian ibu.

Pada setiap fase pertumbuhan sebelum mencapai pertumbuhan akhir yaitu 9 bulan, zat-zat gizi tersebut sangat diperlukan. Segala sesuatu yang masuk harus diperhitungkan kadarnya agar tidak berlebihan dan bermanfaat. Jangan sampai asupan yang masuk hanya menjadi energi yang hanya bermanfaat seketika tetapi juga menjadi cadangan energi ketika si bayi siap untuk keluar.

Tak heran jika ibu hamil diidentikkan dengan susu, makan banyak, sering olahraga, manja dan mudah capek. Semuanya itu berkaitan dengan sibuah hati dan perkembangannya agar sehat serta menjadi generasi yang behasil dan berdaya guna. Jika hal ini sudah tercapai, maka akan tercipta pembangunan-pembangunan yang efektif dan efisien serta kesejahteraaan masyarakatnya yang mampu hidup secara mandiri tanpa bantuan orang lain.

Persepsi Para Ibu

“Saya selalu memberikan anak saya setiap hari segelas susu ketika ia mulai bersekolah. Tetapi kenapa ya dok, dia tidak mau gemuk dan kurang dalam menangkap pelajaran. Sehingga setiap hari saya harus kembali mengulangi pelajaran yang telah dipelajari untuk membuat dia mengerti materi yang disampaikan”.

Begitulah salah satu cuplikan keluhan dari seorang ibu yang bekerja di Dinas Pendidikan kepada seorang dokter anak. Hal yang dikeluhkan adalah anak tidak mau gemuk dan kurang dalam menangkap pelajaran. Hal ini sangat berkaitan dengan pertumbuhan dimasa kandungan. Persepsi para ibu yang menganggap pembentukan hanya diperlukan ketika anak sudah bersekolah dan susu adalah minuman yang wajib disuguhkan kepada anak agar pintar dan gemuk merupakan persepsi yang keliru. Sebab, pertumbuhan anak dimulai ketika ia berada dalam kandungan. Sangat penting bagi ibu untuk  mengetahui hal tersebut agar pemberian nutrisi dilebihkan.

 Susu bukan satu-satunya asupan yang bisa membuat anak gemuk dan pintar. Diperlukan makanan lain yang saling bekerja sama dalam pembentukan sistem-sistem tubuh termasuk sistem saraf yang membantu seorang dalam mengingat dan mencerna pelajaran. Jika sianak hanya diberikan susu, maka kebutuhan akan zat gizi lain bisa tidak terpenuhi sehingga tujuan semula untuk menghasilkan generasi yang membawa perubahan pun tidak akan berjalan sesuai rencana.

Susu sangat besar khasiatnya pada pertumbuhan tinggi sianak karena kalsium yang terdapat didalamnya membantu pertumbuhan tulang dan gigi sehingga besar kemungkinan anak yang sering diberi susu akan cepat tinggi dan sehat daripada cepat gemuk. Sedangkan untuk membuat anak gemuk atau tidak kurus, asupan yang sangat berperan adalah makanan yang mengandung banyak protein seperti ikan, daging atau kacang-kacangan. Vitamin yang terdapat dalam buah-buahan juga diperlukan untuk pertumbuhan daya ingat ketika si bayi dalam masa pertumbuhan otak.

Jelas sudah, persepsi yang salah akan menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Makanya perlu pengetahuan si ibu mengenai tumbuh kembang anak. Pengetahuan yang bukan saja didasarkan atas pengalaman tetapi juga didasarkan pada penelitian yang telah berkembang agar negara tidak menderita Lost Generation, yang berarti kehilangan generasi penerus. Keadaan ini sangat membahayakan, mengingat indonesia yang menjadi incaran negara maju karena kekayaan alamnya yang sekarang masih dicampur tangani oleh negara lain, sedangkan SDAnya masih belum bisa mandiri.