Obat Bagaikan Racun dalam Tubuh

Oleh: Syafriana SitorusObat itu bagaikan racun dalam tubuh. Apa tidak salah? Pernyataan tersebut merupakan hal yang bisa membuat orang terkejut karena selama ini obat diyakini sebagai penyembuh dan paling dicari ketika sakit.

Obat adalah suatu perpaduan zat yang digunakan untuk pendiagnosaan, pengobatan, pelunakan atau pencegahan penyakit yang ada pada manusia atau hewan. Obat terdiri atas berbagai bentuk seperti tablet, kapsul, serbuk, cairan, lotion dan lain-lain yang cara penggunaannya bisa melalui mulut, inhalasi, injeksi, mukosa, dan kulit. Selain diperoleh dengan cara kimiawi, obat juga bisa diperoleh dari nabati yang pengkonsumsiannya jauh lebih aman dari obat yang dibuat secara kimia.

Seorang wanita tua yang menderita penyakit maag dan baru terkena gigitan anjing mengeluhkan beberapa hal berkaitan dengan masalah kesehatannya yang semakin parah. “Sekarang saya harus tergantung pada obat ini. Jika habis saya akan pergi lagi ke puskesmas untuk mendapatkan obat yang sama karena jika tidak mengkonsumsinya, saya akan merasakan sakit apalagi maag ini terasa beriringan dengan rasa sakit tersebut”.

 Keluhan lain datang dari seorang pria dewasa yang menderita asam urat dan rematik, telah mengkonsumsi beberapa macam obat sehingga mengakibatkan badannya bertambah gemuk sehingga membuatnya merasakan sesak saat malam hari karena ketidakseimbangan antara berat badan dan tinggi badannya.

Dari keluhan di atas menunjukkan efek yang dirasakan mereka ketika mengkonsumsi obat-obatan beberapa macam untuk menyembuhkan penyakit yang sedang diderita. Memang penyakitnya bisa lebih baik atau bisa dikatakan sembuh, tetapi tak lama setelah itu mereka merasakan efek yang lain seperti ketergantungan, penyakit lain muncul bahkan sampai melumpuhkan imunitas. Hal ini bisa terjadi karena berhubungan dengan kecocokan sesorang dengan obat. Ketidakcocokan bisa membuat efek yang tidak diinginkan akan bermunculan. Tak heran jika sesorang mengkonsumsi obat sebagian bisa sembuh dan sebagian lain bisa lebih parah.

Racun

Tubuh terdiri dari berbagai sistem dan subsistem yang bekerja sinergis dan berkesinambungan jika organ-organnya berfungsi dengan baik. Namun kerja sistem ini akan terganggu apabila ada substansi dari luar yang masuk dan mengganggu proses kerjanya bagaikan racun, menggerogoti perlahan-lahan sehingga menimbulkan penyakit atau keluhan.

Banyak keluhan yang dirasakan oleh beberapa orang mengenai efek dari pengkonsumsian obat. Namun, tak sedikit pula yang merasakan manfaatnya. Obat bekerja melalui sistem dalam tubuh baik sistem pencernaan maupun sistem peredaran darah yang kerjanya tanpa disadari (involunter) sehingga seseorang tidak tahu bagaiman alur absorbsi obat dalam tubuh.

Obat yang telah dikonsumsi akan di serap zat-zat yang berfungsi dalam proses penyembuhan dan sisanya akan dibuang melalui urin, feses, dan keringat. Oleh karena itu, sistem lain akan terkena dampaknya apabila sistem yang satu tergangu.

Racun yang terdapat dalam obat perlahan-lahan membanyak jika pengkonsumsian obat terus dilakukan. Seperti keluhan diatas tadi bahwa jika penghentian obat dilakukan secara spontan, penyakitnya akan kembali lagi. Dengan demikian, keseringan mengkonsumsi obat jangan sampai dimulakan mengingat bahan pembuatan obat juga berasal dari bahan napza yang bisa membuat ketergantungan namun dalam dosis yang tidak melebihi ambang batas.

Mengubah Kebiasaan

Fakta yang terjadi membuat kita lebih sadar akan fungsi obat yang sesungguhnya. Apalagi sekarang banyak beredar obat-obatan yang terjual bebas diwarung-warung dan kebanyakan obat-obatan sekarang berasal dari bahan-bahan kimia sehingga membuat akses masyarakat mudah dalam mendapatkan obat. Khasiatnya pun lebih dipikirkan ketimbang efeknya dikemudian hari.

Kebiasaan yang ada pada masyarakat saatnya untuk dirubah. Kebiasaan yang menjadikan obat sebagai penolong pertama dan tercepat dalam menyelesaikan masalah kesehatan. Kebiasaan tersebutlah yang membuat penyakit-penyakit cepat berdatangan namun pencegahannya tidak dilakukan. Mengingat kebiasaan nenek moyang kita dulu yang sering berobat dengan alam maka kenapa tidak kita lakukan kembali kebiasaan tersebut. Melakukan usaha pencegahan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang terdapat di alam tanpa melibatkan bahan-bahan kimia yang interaksinya bisa membuat segala macam penyakit bermunculan.

Apabila demam ringan, haruskah langsung diberikan obat? Maka jawabannya tidak karena demam merupakan suatu gejala bukan penyakit. Maka gejala bisa diobati tanpa memakan pil atau obat-obatan lain. Cukup dengan istirahat maka panas dibadan bisa hilang dan diimbangi dengan mengkonsumsi buah-buahan. Tak lupa yang paling penting adalah olahraga.

Ternyata simple kan pengobatannya. Kebiasaan tersebut harus dimulai sejak sekarang agar tubuh kita tidak terlalu tergantung dengan obat. Sakit sedikit minum obat, merupakan fikiran yang harus dijauhi. Kasihan organ-organ dalam tubuh kita seperti ginjal dan hati, yang bisa memperberat tugasnya dalam mengekskresi obat dan menawar racun.

Kebiasaan mengunjungi dokter atau datang ke rumah sakit hanya untuk mendapatkan obat, juga harus diubah karena obat tidak selamanya jadi obat. Obat bagaikan racun yang bisa melumpuhkan organ-organ vital lainnya, tidak terasa secara di luar namun di dalam sudah bekerja.

(Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat USU dan Anggota Penelitian Pengembangan Sumberdaya Masyarakat FKM USU)